Liputan6.com, Jakarta - Ada anggapan etika luhur bangsa Indonesia
mulai terkikis sedikit demi sedikit. Hal itu terlihat dari perilaku tak
etis yang tampil sehari-hari hingga merebaknya kasus-kasus korupsi.
Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (11/10/2014),
menyadari masalah tersebut Presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi
mengajukan konsep Revolusi Mental yang akan dicangkokkan ke sistem
pendidikan dasar.
Kebiasaan-kebiasaan yang sering terjadi di masyarakat antara lain
motor yang berjalan di trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki,
orang-orang buang sampah sembarangan, dan anak-anak sekolah tawuran.
Sejumlah kebiasaan itu termasuk saling serobot di jalan sekarang
telah menjadi bagian hidup sehari-hari di banyak bagian negara
Indonesia.
Hal-hal tersebut dianggap biasa, dianggap wajar, dan kadang
dibenarkan dengan beragam alasan. Walau banyak juga yang mengakui hal
itu terjadi karena kurangnya pengendalian diri.
Banyak orangtua menuding perilaku tidak tertib semakin merebak karena
tiada lagi tokoh teladan hingga generasi muda pun sekadar meniru. Lalu
kemudian datang anggapan pendidikan moral dan etika seharusnya
mendapatkan porsi yang lebih besar.
Transisi pendidikan ala Jokowi, etika sederhana sehari-hari yang
terabaikan bisa berlanjut menjadi penyimpangan serius seperti korupsi.
Hal itulah yang menjadi perhatian presiden terpilih Jokowi. Jokowi pun
melontarkan ide pentingnya yaitu Revolusi Mental.
Senada dengan Jokowi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh
menilai, proses pendidikan harus mampu mengantar anak didik
mengembangkan karakter terbaik untuk anak Indonesia.
Itu berarti tumbuhnya rasa cinta nilai-nilai kemanusiaan, rasa ingin
tahu intelektual, serta rasa cinta dan bangga sebagai manusia Indonesia.
Titik berat pendidikan adalah pengembangan karakter luhur.
Tetapi mendidik manusia tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tokoh pendidikan, Profesor Arief Rachman mengidentifikasi sejumlah
masalah teknis pada layanan pendidikan di Tanah Air, mulai dari belum
meratanya sarana pendidikan hingga perlu ditingkatkannya kualitas
guru-guru.
Bila masalah-masalah teknis bisa teratasi, potensi tiap siswa
termasuk potensi terbentuknya karakter luhur diharap lebih mudah
tercapai, walau semua perlu waktu. Pendidikan adalah investasi jangka
panjang.
Terlepas dari kendala yang mungkin masih harus diatasi presiden
terpilih Jokowi menilai porsi pendidikan untuk membentuk karakter luhur
memang harus ditambah.
Berbekal dengan karakter luhur yang kuat, generasi muda Indonesia
punya harga diri dan mampu menghadapi tantangan-tantangan besar.
Di tengah erosi nilai-nilai, perubahan etos manusia Indonesia ke arah lebih baik memang ditunggu-tunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar