Sabtu, 17 Januari 2015

Mendikbud: Pemerintahan Baru Lanjutkan Program Pendidikan Utama

Liputan6.com, Jakarta - Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015 saat ini tengah disusun. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh berharap pemerintahan ke depan dapat melanjukan sejumlah program pendidikan yang utama.

Seperti program Pendidikan Menengah Universal (PMU), Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidik Misi), pelatihan guru, dan kurikulum pendidikan.

"Prioritas ke depan, melanjutkan apa yang sudah dijadikan program saat ini. Harapan saya, tentu yang pertama program-program yang sangat esensial itu tetap bisa berlanjut," ujar dia di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Minggu (17/8/2014).

Namun, ia mengatakan saat ini APBN masih dalam tahap rancangan. Sehingga belum ada gambaran pasti mengenai detail anggaran untuk program-program pendidikan.

Oleh karena itu, sebelum 30 September, Mendikbud akan membahas RAPBN menjadi APBN bersama DPR RI. Karena masa jabatan anggota DPR akan habis pada 30 September, kemudian pada 1 Oktober Gedung DPR akan diduduki anggota baru.

Dalam pembahasan itu, Kemendikbud baru dapat mencantumkan alokasi anggaran program pendidikan dalam APBN 2015. Nantinya, itu akan dipakai sebagai dasar oleh pemerintahan berikutnya untuk menjalankan berbagai program.

"Meskipun juga pemerintahan akan datang punya kesempatan melakukan Perubahan di APBN Perubahan, monggo silahkan. Tapi postur itu akan terlihat dengan baik setelah nanti dibahas bersama DPR," jelas Nuh.

Transisi Pendidikan di Indonesia ala Jokowi

Liputan6.com, Jakarta - Ada anggapan etika luhur bangsa Indonesia mulai terkikis sedikit demi sedikit. Hal itu terlihat dari perilaku tak etis yang tampil sehari-hari hingga merebaknya kasus-kasus korupsi.
Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Sabtu (11/10/2014), menyadari masalah tersebut Presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi mengajukan konsep Revolusi Mental yang akan dicangkokkan ke sistem pendidikan dasar.
Kebiasaan-kebiasaan yang sering terjadi di masyarakat antara lain motor yang berjalan di trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki, orang-orang buang sampah sembarangan, dan anak-anak sekolah tawuran.
Sejumlah kebiasaan itu termasuk saling serobot di jalan sekarang telah menjadi bagian hidup sehari-hari di banyak bagian negara Indonesia.
Hal-hal tersebut dianggap biasa, dianggap wajar, dan kadang dibenarkan dengan beragam alasan. Walau banyak juga yang mengakui hal itu terjadi karena kurangnya pengendalian diri.
Banyak orangtua menuding perilaku tidak tertib semakin merebak karena tiada lagi tokoh teladan hingga generasi muda pun sekadar meniru. Lalu kemudian datang anggapan pendidikan moral dan etika seharusnya mendapatkan porsi yang lebih besar.
Transisi pendidikan ala Jokowi, etika sederhana sehari-hari yang terabaikan bisa berlanjut menjadi penyimpangan serius seperti korupsi. Hal itulah yang menjadi perhatian presiden terpilih Jokowi. Jokowi pun melontarkan ide pentingnya yaitu Revolusi Mental.
Senada dengan Jokowi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menilai, proses pendidikan harus mampu mengantar anak didik mengembangkan karakter terbaik untuk anak Indonesia.
Itu berarti tumbuhnya rasa cinta nilai-nilai kemanusiaan, rasa ingin tahu intelektual, serta rasa cinta dan bangga sebagai manusia Indonesia. Titik berat pendidikan adalah pengembangan karakter luhur.
Tetapi mendidik manusia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tokoh pendidikan, Profesor Arief Rachman mengidentifikasi sejumlah masalah teknis pada layanan pendidikan di Tanah Air, mulai dari belum meratanya sarana pendidikan hingga perlu ditingkatkannya kualitas guru-guru.
Bila masalah-masalah teknis bisa teratasi, potensi tiap siswa termasuk potensi terbentuknya karakter luhur diharap lebih mudah tercapai, walau semua perlu waktu. Pendidikan adalah investasi jangka panjang.
Terlepas dari kendala yang mungkin masih harus diatasi presiden terpilih Jokowi menilai porsi pendidikan untuk membentuk karakter luhur memang harus ditambah.
Berbekal dengan karakter luhur yang kuat, generasi muda Indonesia punya harga diri dan mampu menghadapi tantangan-tantangan besar.
Di tengah erosi nilai-nilai, perubahan etos manusia Indonesia ke arah lebih baik memang ditunggu-tunggu.

JK: Spirit Belajar Anak Desa Lebih Hebat


Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla atau JK menuturkan pendidikan baru dibilang berhasil kalau bisa diterapkan langsung di lapangan atau dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu disampaikan JK saat menerima pengajar muda dari Indonesia Mengajar di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (19/12/2014).

"Kemarin waktu Menteri Pendidikan (Anies Baswedan) uraikan kultur baru yang agak rumit, saya bergurau sama Pak Jokowi (Joko Widodo). Saya bilang kita kan sekolah yang sederhana saja bisa jadi begini. Jadi sebenarnya pada akhirnya semua pendidikan itu uji pokoknya adalah di lapangan," kata JK.

Dalam kesempatan ini pula, JK menyinggung Susi Pudjiastuti yang ‎hanya lulusan SMP tapi bisa menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan di pemerintahan saat ini. Ia melihat apa yang didapat Susi selama bersekolah langsung bisa diimplementasikan di kehidupan sehari.

"Saya ingin gambarkan menteri yang paling populer sekarang di kabinet, yang tamatan SMP bukan yang Phd," ujar JK.

JK juga menyampaikan anak-anak di desa lebih memiliki niat belajar dibanding anak yang tinggal di kota. Karena itu, 20% APBN dialokasikan pada pendidikan, agar pendidikan bisa menjangkau anak-anak di desa.

"Saya selalu katakan, anak desa sendiri fighting spirit-nya lebih hebat untuk belajar dari pada anak Jakarta. Cucu saya pergi ke sekolah jam 10, diantar mobil, AC, makan bawa bekal, dijemput. Coba anak desa jalan kaki 10 kilo untuk pergi sekolah. Spirit itu lebih hebat anak desa itu. Jadi Anda tinggal berikan sentuhan," tegas JK.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus pendiri Indonesia Mengajar, Anies Baswedan yang hadir dalam pertemuan tersebut juga menambahkan pentingnya minat membaca ditingkatkan. Minat membaca harus dimulai oleh para orangtua dan guru.

"Itu gurunya, gurunya harus punya minat baca. Orangtuanya harus punya minat baca. Lalu anak-anaknya diajak punya minat baca," ungkap Anies.

Selain itu, Menteri Anies mendukung diterapkan jam baca di tiap wilayah di Indonesia. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya menghabiskan malam hari dengan menonton televisi saja.

"Lalu bagi masyarakat di komunitas yang memiliki RT/RW, buatlah jam belajar, jam membaca. Jadi jangan hanya nonton TV tapi jam baca digalakkan. Kalau RT/RW bersemangat mengemban itu insya Allah yang lain-lain akan bersemangat," tandas Menteri Pendidikan. (Ans)

KEBIJAKAN PENDIDIKAN Pemerintah Jokowi-JK Hadapi 6 Tantangan

Ilustrasi (JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra Kumala)

Solopos.com, JAKARTA – Pengamat pendidikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Titik Handayani Pantjoro menyebut ada enam tantangan dunia pendidikan bagi pemerintahan baru yang akan dipimpin Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
“Berdasarkan hasil penelitian PPK-LIPI, untuk mempersiapkan generasi mendatang dengan peningkatan akses pendidikan pada jenjang lebih tinggi melalui kebijakan PMU [pendidikan menengah universal] 12 tahun akan menghadapi enam tantangan dalam implementasinya,” kata Titik, Senin (1/9/2014). Keenam tantangan itu adalah pertama, belum tercapainya target program Wajar Dikdas Sembilan Tahun dan berdasarkan data Kemendikbud angka partisipasi kasar (APK) SMP/MTs telah mencapai 98,11 persen pada tahun 2009. Menurut Inpres No.5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara, APK SMP/MTs dan sederajat sebesar 95 persen pada tahun 2005. Selain itu, menurut Renstra Depdiknas Tahun 2005-2009, APK SMP/MTs dan sederajat sebesar 98 persen pada tahun 2009.
“Secara agregat di tingkat nasional sudah tercapai, akan tetapi pada tingkat provinsi masih terdapat 14 provinsi yang mempunyai capaian di bawah APK nasional atau belum mencapai ketuntasan sesuai target,” ungkapnya. Dia menyebutkan provinsi tersebut, di antaranya Provinsi Papua baru mencapai 43,6 persen, Provinsi Kalimantan Barat (59,51 persen), dan Provinsi Papua Barat (59,65 persen).
Pada tingkat kabupaten-kota, lanjut dia, lebih dari setengah jumlah kabupaten di Indonesia, yakni 238 dari 386 kabupaten atau sebesar 62 persen capaian APK-nya masih di bawah target nasional tahun 2009. “Pada tingkat kota masih ada enam kota (6 persen dari 97 kota) yang capaian APK-nya masih di bawah target nasional tahun 2009,” tuturnya.
Titik mengatakan tantangan kedua adalah terbatasnya daya tampung SMA/SMK dan sederajat. “Ketiga, ketersediaan jumlah guru atau pendidik yang mencukupi dan berkualitas,” ujarnya. Keempat persoalan pembiayaan pendidikan, kelima desentralisasi, dan keenam hambatan sosial budaya.
Disinggung mengenai kartu Indonesia Pintar (KIP), menurut Titik, implementasinya harus diperhatikan karena pada kartu Jakarta pintar (JKP) sendiri terdapat beberapa kelemahan, di antranya adalah soal distribusi dan sasaran yang tidak tepat. “Sehingga, sebelum KIP diterapkan maka harus dikaji ulang terutama dalam pendataan penerima KIP karena syarat untuk mendapatkan KJP sangat mudah yaitu cukup melampirkan surat keterangan tidak mampu,” tuturnya.
Selain itu, dia menyarankan untuk memperketat pengawasan dengan membentuk tim pengawas khusus karena selama ini pengawasan KJP diberikan pada guru, orang tua dan sekolah

Pemerintahan Jokowi-JK Akan Tambah Biaya Pendidikan di 2015

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim Jokowi-JK dibidang ekonomi, Arif Budimanta mengungkapkan pemerintahan Jokowi-JK akan menambah anggaran pendidikan hampir 10 triliun pada tahun 2015.
"Sekarang kan wajib belajar hanya 9 tahun. Jadi di tahun 2015, bisa sampai 12 tahun diseluruh Indonesia. Alokasi dana di RAPBN 2015 senilai 119,5 triliun," tutur Arif saat ditemui Tribunnews.com di Jalan Cemara nomor 19, Jakarta Pusat, Senin (1/9/2014).
Menurutnya, anggaran pendidikan di pemerintahan pusat itu sudah masuk kedalam program kartu Indonesia pintar.
"Anggaran dialokasikan melalui Kementerian Pendidikan lewat Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Lalu diajukan melalui Rapat Banggar (Badan Anggaran) RAPBN 2015," tandasnya.
Menurut Nota Keuangan 2015 yang dikeluarkan pemerintah saat ini, anggaran pendidikan pada pemerintah pusat direncanakan Rp 119,459 triliun untuk tahun depan. Meningkat hampir 10 triliun, jika dibandingkan dari tahun ini yang hanya di anggarkan sejumlah Rp 113,269 triliun.
Kata Arif, program Indonesia Pintar lebih memfokuskan untuk pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Kalau untuk perkuliahan paling kita akan menambah beasiswa-beasiswa. Tapi tidak menutup kemungkinan, secara perlahan biaya kuliah juga akan di Gratiskan. Namun proses pengalihan dari konsumtif ke Produktif bisa berjalan," kata Arif.

Artikel Pendidikan (Kurikulum 2013)

Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi. Kurikulum ini menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterapkan sejak 2006 lalu. Dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan.Mata pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik dipilih sesuai dengan pilihan mereka.Kedua kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama dikembangkan dalam struktur kurikulum pendidikan menengah (SMA dan SMK) sementara itu mengingat usia dan perkembangan psikologis peserta didik usia 7 – 15 tahun maka mata pelajaran pilihan belum diberikan untuk peserta didik SD dan SMP.
Sejak kurikulum ini mulai diuji-cobakan 15 Juli 2013 yang dilaksanakan pada sekolah piloting pada 6.236 sekolah di seluruh Indonesia. Sekolah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 berkisar 3,62% dan sekolah yang belum melaksanakan Kurikulum 2013 ialah 96%. Tahun 2014 pemerintah pun menerapkan kurikulum itu di setiap satuan pendidikan di Indonesia, mulai dari SD berjumlah 116.000, SMP berjumlah 35.000, sampai ke sekolah menengah atas (SMA/SMK/MA) yang lebih dari 16. 000 sekolah.
Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada sekolah piloting satu tahun berjalan masih menimbulkan permasalahan. Betapa banyak peserta didik yang hebat mengunduh informasi dari dunia maya, tetapi mereka tidak mampu menuliskan dan mengunggahnya. Setelah informasi diperoleh, peserta didik pun kesulitan menyampaikannya secara ilmiah. Akankah kita biarkan peserta didik yang tidak pandai menulis dan tidak tidak mampu berbicara ini?
Guru masa depan diharapkan piawai membelajarkan siswa melalui sayap menulis dan berbicara agar Kurikulum 2013 tidak tinggal nama. Implementasi pendekatan saintifk Kurikulum 2013 telah mengisyaratkan kemampuan itu melalui Permendiknas 81 A Tahun 2013. Guru yang tidak mau meng-upgrade diri akan ditinggalkan zaman atau zaman yang akan meninggalkan mereka. Akan berartikah di mata peserta didik jika tidak mampu menulis dan tidak cakap menyampaikan ide secara baik dan benar?
Pendekataan saintifik telah digadang-gadang Kurikulum 2013 bermuara pada kedua kemampuan penopang kemampuan peserta didik dalam hal menulis dan berbicara. Untuk mengomunikasikan keilmuannya, media elektronik internet dapat dijadikan guru sebagai fasilitas langsung peserta didik untuk mewarnai pembelajaran. Sebutlah pada tataran pengamatan, pertanyaan, dan penalaran yang baik dapat diakses kapan saja oleh peserta didik. Muaranya ialah peserta didik harus mampu menulis dan hebat berbicara secara ilmiah.
Pengambil kebijakan dan kepala sekolah patut merencanakan sederetan program yang dibutuhkan guru dan peserta didik secara nyata. Terbatasnya model belajar, strategi, dan metode pembelajaran guru dinyatakan pemicu lambatnya percepatan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah.
Guru hebat akan membelajarkan peserta didiknya. Pelaksanaan penilaian autentik dengan segala formatnya dirasa rumit sehingga menjadikan guru pasrah, tetapi tak rela karena guru masih mencari format yang tepat.
Ketika seminar dan ceramah-ceramah tidak mangkus lagi mendongkrak mutu belajar, saatnya pengambil kebijakan mengiringinya dengan program supervisi yang jelas, tegas, dan berkelanjutan.
Guru terpilih dengan sebutan guru master atau guru inti pada Kurikulum 2013 masih berada pada titik lembam. Nyaris tak bergerak atau tidak digerakkan dengan program dan dana yang menggiringinya. Akibatnya siswa “mabuk” dengan label Kurikulum 2013, sedangkan proses pembelajaran masih seperti “taralah” juga.
Guru masa depan tidak akan mengebiri perkembangan peserta didiknya. Didiklah peserta didik sesuai zamannya. Ungkapan ini merupakan cimeti guru untuk berubah ke arah lebih baik. Alangkah tak elok apabila masih ada guru yang mencari pembenaran diri, seraya berkata, “Dulu saya menggajar seperti ini juga, banyak peserta didik yang berhasil” mereka ‘jadi orang’ juga. Pernyataan ini sudah tak zaman lagi. Faktor guru masih dijadikan sorotan utama dalam mengaplikasikan kurikulum ini.
Perubahan kurikulum akan menimbulkan penyempunaan cara belajar. Peserta didik berharap banyak pada guru sambil berusaha keras untuk menunggu perubahan yang berarti. Mereka ingin menjadi orang hebat, sedangkan program model pembelajaran guru untuk mengaplikasikan pendekatan saintifik Kurikulum 2013 masih belum kokoh bagi guru. Peserta didik menunggu penyempurnaan pembelajaran dari pemerintah. Inovatif guru sangat dinanti. Model pembelajaran yang menyenangkan sangat mereka tunggu. Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013 tegas menyatakan esensi perubahan Kurikulum 2013 tentang standar kompetensi lulusan (SKL) yang bermuara pada kriteria kualifikasi sikap, kemampuan, dan keterampilan. Pendekatan awal pengamatan dapat dilakukan peserta didik dengan melihat, membaca, mendengar/menyimak.
Keterampilan bertanya pun perlu dimiliki guru untuk memancing peserta didik mengembangkan diri sambil mengasah daya nalar yang diukur dengan penilaian autentik.
Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 yang berisi tentang standar penilaian menuntut adanya format yang harus disiapkan guru. Sementara orang tua peserta didik saat menerima rapor tidak paham sepenuhnya dengan nilai rapor anaknya.
Selain tuntutan aturan, guru sulit memberi alasan kepada orang tua peserta didik yang menanyakan alasan sekolah mengkonversi nilai dari puluhan sampai 100 hingga diubah menjadi nilai A, B, C, dan D.
Keterampilan berbicara ilmiah dan melahirkan ide yang jelas sumbernya sangat penting dimiliki peserta didik adar mereka bertanggungjawab, dan bekerja menurut prosedurnya.
Ketidakmampuan peserta didik menulis dan berbicara secara ilmiah akan berdampak nyata pada pembelajaran untuk menyelesaiakan masalah fenomena kehidupan.
Di sini peran guru memfungsikan kelas sebagai miniatur kehidupan nyata dengan memanfaatkan berbagai sumber media cetak, elektronik, internet, dan teknologi di sekolah.
Guru profesional seharusnya memiliki kapasitas yang memadai untuk melakukan tugas membimbing, membina, dan mengarahkan kemampuan maksimal peserta didik belum terbiasa dengan teknologi dan menggunakan berbagai aplikasi teknologi.
Peran guru sangat penting dan strategis, terutama dalam memberikan bimbingan, dorongan, semangat, dan fasilitas kepada peserta didik.
Penguasaan terhadap iptek memang harus diiringi pemahaman etika. Sikap yang baik akan melahirkan peserta didik yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan dirinya. Dengan demikian, peserta didik akan mampu mengembangkan kapasitasnya diri mereka hingga menjadi pribadi kuat, ulet, kreatif, disiplin, dan berprestasi, sehingga tidak menjadi korban dan tertindas oleh zaman.
Peran pendidikan sangatlah penting untuk meningkatkan harkat dan martabat suatu masyarakat dan bangsa. Melalui Kurikulum 2013 bangsa akan kuat dan memiliki kemampuan bersaing dengan bangsa lain. Kurikulum 2013 menghendaki karakteristik masyarakat pada abad 21 mampu menghadapi tantangan melalui pembelajaran. Di sini nyali guru akan teruji untuk menyongsong tantangan.
Guru profesional yang berada pada masyarakat abad 21 dengan mudah mengakses informasi lewat dunia maya dimimpikan mengangkat fenomena rendahnya mutu pendiidkan. Guru yang profesional akan membelajarkan peserta didik untuk memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, berprestasi, dan beretika.
Tantangan bagi guru profesional menghadapi globalisasi adalah membelajarkan peserta didik sesuai zamannya berbingkai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menanamkan sikap disiplin, kreatif, inovatif, dan kompetitif melalui pendekatan saintifik Kurikulum 2013. Orang tua peserta didik diharapkan ambil bagian pula bersama komite untuk menopang percepatan dan kecepatan kemajuan pendidikan.
Kurikulum 2013 sesuai yang digembar-gemborkan sebe­lumnya, diharapkan dapat memberikan harapan baru dalam me­wujudkan pendidikan Indonesia yang maju, mandiri, dan dapat berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa lainnya.

lomba BAND antar sekolah di SMK SAHID Jaktim